Ruh Islam

Fethullah Gülen: Ruh Islam

Saya pastikan jika ada yang bisa menghembuskan semangat kehidupan bagi umat manusia, maka itu adalah nafas Islam. Apa yang diwajibkan bagi umat manusia semuanya melalui penjelasan selama berabad-abad tidak lain tidak bukan adalah untuk kebaikan serta obat bagi mereka sendiri. Karena awal dari segala penyakit dan keburukan adalah jauh dari ruh Islam. Terkadang hubungan manusia dengan lainnya itu hubungan sementara, tetapi penolakan dan sulitnya penerimaan hadir tidak selalu membuat kita tenang selamanya. Oleh karena itu, pada kebanyakan manusia timbul keraguan di dalam diri dan pikirannya. Maka sudah menjadi watak dasar manusia, termasuk dalam hal ini, selalu berusaha menghilangkan keruwetan, keraguan, dan penerimaan yang disebabkan munculnya hal-hal baru. Karena itu setiap panggilan adalah panggilan baru dan seolah-olah menjadi sebab perkara baru yang diikuti penolakan baru. Sebenarnya hal itu tidaklah mengherankan, karena kewajiban-kewajiban buat manusia disandarkan kepada kebutuhan universal yang meliputi hubungan antara kehidupan, alam semesta, dan makhluk-Nya. Di sisi lain, karena kurangnya pengetahuan tentang manusia, bahkan buta sama sekali tentang seluk beluk manusia. Termasuk ketidaktahuan akan pemahaman terkait hati dan ruhiyyah manusia secara paripurna. Keduanya merupakan kelemahan yang tidak bisa terpenuhi dari kesenjangan yang dihasilkan oleh pengaruh keduanya dalam sistem ini.

Tidak mudah bagi suatu sistem untuk meletakkan ukuran yang sangat mendetail dalam menggambarkan hubungan manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta dengan tanpa meninggalkan kehampaan atau cacat kecuali sistem Islam. Karena gambaran secara maknawiyah atau metode kebendaan sebelumnya, atau susunan dan arah yang disiapkan dengan ikhlas dan angan-angan setelahnya, maka tidak terpenuhi lah kebutuhan manusiawinya, tetapi hanya meringkas angan saja yang telah dijanjikan olehnya. Kesalahan terbesar kita, di masa kini, adalah perhatian kita terhadap pemenuhan yang berlebihan ke arah materialisme dalam mengisi dahaga insaniah. Sehingga melahirkan kelaparan hati dan jiwa. Berusaha keras untuk memenuhi dahaga ruhaniyah dengan memberi makan tubuh dengan berlebihan tak ubahnya seperti menghilangkan haus dengan cara minum air laut.

Kita sadari, sejak bertahun-tahun yang lalu, kehidupan manusia secara umum dan alam ini, khususnya, acapkali perhatian yang berlebihan terhadap materialisme justru akan menjauhkan dari ruhaniyyah lain. Pada tahap berikutnya, hal itu justru menambah jauh dari kesadaran. Layaknya orang yang mengigau model terbaru. Ketika derita yang dirasakannya semakin lama akan kebutuhan fisiknya, maka runtuhlah bangunan kehidupan hati dan ruhaniyyahnya dalam perjalanan hidup ini. Semakin tidak punya rasa malu seiring bertambah kerasnya tubuh. Maka tujuan pribadilah yang menjadi hakim dalam menjalankan nilai kemanusiaannya secara keseluruhan. Akhirnya, jauhlah ia dari ruh Islam. Sungguh ini merupakan suatu sebab mendasar dan terselubung bagi penjagaan nilai kemanusiaan dari lapar dan dahaga yang hakiki.

Ruh Islam di sini bukanlah saya maknai pada polanya, dengan berdasarkan sudut pandang kami, sebagai suatu kebohongan, kamuflase dan kesia-siaan seperti halnya kilat yang ada di langit. Tetapi dengan keindahan warnanya, ia seperti ruh-ruh suci lain yang dapat dirasakan sepenuh hati. Seperti halnya ruh dan semangat para pendahulu kita. Mereka yang merasakan kebahagiaan pada masa awal Islam. Fase kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semangat Islam ini tidak akan musnah. Ia seperti air laut yang selalu berombak, suci, membasahi, menyegarkan, tidak akan pernah keruh atau terkotori oleh pemikiran-pemikiran buruk yang masuk ke dalamnya. Sampai kapan pun dan dimana pun. Hanya saja, untuk menjangkau dan mengambil manfaat dari ruh tersebut dibutuhkan keteguhan niat, kebenaran cara berpikir, semangat juang yang tinggi, konsisten dalam perbuatan, lurus cara pandangnya, serta kuat memegang teguh landasan dalam mengembangkan diri.

Bagaimanapun juga, ruh Islam ini adalah sesuatu yang istimewa, sempurna, dan praktis. Maka ia tidak bisa memberi manfaat atau memberi contoh dengan sempurna dalam kualitas dan kuantitasnya, kecuali dengan niat yang benar, cara pandang yang tepat, kegigihan tekad untuk berjuang, iktikad dan ketenangan jiwa sampai semua yang dituju dan diharapkan tercapai. Tanpa itu semua, rasanya sulit untuk mengalahkan kelaparan, kemiskinan, serta derita yang merintangi. Sehingga, walau kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk menggapai rahasia langit tersebut. Karena alam ini masih terus berkembang dengan hidangan Al-Quran dan As-Sunnah, dan tidak mungkin tanpa keduanya. Saya mengakui bahwa saya adalah salah satu di antara sekian banyak orang yang terkena bencana modern yang mendurhakai itu. Sebagian besar dari gelombang dan benturan bencana akan musnah dan hilang bahayanya hanya dengan sedikit perkiraan. Hal itu apabila kita terus berpegangan kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Menemukan inti dari keduanya dengan pemahaman seperti orang-orang yang diungkap oleh keduanya yang pernah hidup pada masa Nabi.

Pada dasarnya, Islam dalam kehidupan kita selalu menjadi sumber makanan pokok yang disajikan oleh Tuhan untuk kita. Seperti air susu ibu untuk bayinya. Di dalam Islam, terdapat pondasi kokoh dalam mewujudkan rasa, karsa, dan cipta atau cara berpikir dan cara pandang manusia. Ia juga teman yang selalu setia menemani di rumah kita. Udara yang selalu kita hirup. Tidak bisa kita bayangkan apabila jauh dari semua itu. Makanan pokok, bangunan, serta teman setia. Sebaliknya, banyak metodologi atau teori baru dari barat yang hadir dengan angkuhnya justru mengusik dan menggangu serta menyempitkan pemahaman kita. Tetapi teori itu tidak akan sampai masuk ke dalam diri kita, apalagi bercampur dengan ruh kita. Hal itu bukan karena kita tidak berinteraksi kedalamnya atau sebaliknya. Tetapi karena komitmen penjagaan kita dari awal mula untuk menjauhi bentuknya. Ditambah dengan betapa penting dan bermanfaatnya sikap hati-hati dan kritis kita terhadap ideologi tersebut. Sehingga alam pikiran kita tetap terjaga dengan rapih. Tidak ditemukan bagi ideologi tersebut, suatu tempat yang nyaman dalam diri kita kecuali hanya sebagian kecil yang dimaklumi karena tidak mungkin dicegah.

Disadari atau tidak, Islam sebenarnya selalu mengarahkan, membimbing, serta memenuhi kehidupan dan kebutuhan kita. Bahkan mengobarkan semangat juang kita. Kita bisa menemukannya dalam setiap sendi kehidupan ini. Di sekitar kita, tanah air, negara, kota-kota dan di rumah-rumah kita. Sampai kepada semangat kita, perilaku dan langkah kita. Seluruh hidup dekat dan diwarnai olehnya. Warna tersebut hadir dalam perjalanan serta jiwa dan tubuh kita. Menelusup ke dalam relung hati, bergelora disana sampai nampak dalam air muka kita, membaja nan kokoh dalam lutut kita dan telapak kaki kita. Selanjutnya, hadirlah ia membawa kenyamanan yang menghapus lelah, pada saat yang lain mengajak kita berpikir lagi setelah melepas lelah. Tindakannya hidup dalam ruh dan harta kita.

Islam juga teman bicara yang selalu setia di rumah. Secara pribadi maupun kelompok. Ia adalah anjuran yang selalu lurus dan benar untuk selalu menyayangi, memeluk dan saling melindungi. Ia berjanji, manusia akan kekal di sisi Tuhan setelah dibangkitkan nanti. Inilah jaminan masa depan. Sikapnya yang seimbang dan moderat mampu meluaskan hati dalam menyelesaikan masalah-masalah tentang kebenaran, keadilan, dan persamaan hak dan kewajiban. Semua itu menghubungkan kita dari kedalaman hati yang bersih. Menjadikan kita selalu merindu kepadanya. Seandainya sehari saja kita tanpa dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, itu tidak boleh dan tidak mungkin, maka kami akan pastikan kita hancur, sedih yang berkepanjangan, dan terjerembab di tanah.

Berdirinya sistem-sistem tersebut telah tersibukkan dalam hal kebenaran, keadilan, persamaan dan kelestarian alam. Ia merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu atau untuk menggelorakan semangat prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran mereka. Islam hadir dengan membawa inspirasi untuk mewujudkan nilai-nilai global dalam satu titik pertemuan, antara kebahagiaan manusia dan ridha dari Allah. Menyatukan kehendak Allah dan harapan manusia dalam satu wadah. Oleh karena itu, Islam menuntut umatnya untuk terus berpegang teguh kepada tujuan mulia ini. Hal ini dapat terbangun dan terlaksana dengan baik apabila umat Islam menempatkan kebenaran, keadilan, dan persamaan dalam kedudukan di  posisi yang penting. Mereka tidak menumpangi pemikiran itu denban kepentingan materialis, seperti untuk kesenangan hawa nafsu dan materialisme semata. Keberadaan niat yang salah tersebut akan memutus hubungan dengan Allah. Selanjutnya, cepat atau lambat, mereka akan sampai pada derajat yang selalu diidamkan oleh banyak orang. Derajat dimana mereka telah benar-benar mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Inilah derajat yang selalu diidamkan oleh manusia. Motivasi awal untuk dapat mencapai derajat ini adalah kekuatan yang tidak pernah goyah serta sistem kehidupan Islam yang mengagummkan.

Islam tidak butuh promosi ataupun propaganda seperti halnya ideologi-ideologi lainnya. Karena sumber landasannya Islam itu sendiri, berikut jalan hidup serta contoh-ccontoh yang sesuai. Islam terus mendorong umat manusia untuk teguh dalam kebenaran dan berdiri tegak di atasnya. Karena menjunjung tinggi kebenaran adalah ibadah mulia. M. ‘Akif mendendangkan sebuah syair,

Semua yang benar itu dari-Nya
Siapa yang memuliakannya, ia pun akan mulia.

Baru-baru ini seseorang berpendapat tentang pemikiran yang indah ini dalam bingkai titik hitam tersendiri. “Aku pun menganggap sebagai nafas atau suara haqiqat yang tidak pernah sepi, selamanya.”

Islam terus bergerak dan berkembang berdasarkan “Kekuatan kebenaran.” Tidak menyerah dalam bayang-bayang kezhaliman. Berdiri tegak, berjalan tegap, tidak takut akan kezhaliman dan tidak tunduk merendah pula. Seperti ungkapan sastrawan, “Tidak bercampur wajah kami dengan kehinaan... Bagi dunia..”

Hanya kepada Allah kami memohon, hanya kepada-Nya kami pasrah. Keseimbangan antara kebenaran dan kekuatan merupakan pembahasan yang sangat penting dan dibutuhkan pembahasan tersendiri. Namun, di sini saya hanya akan menyampaikan intinya saja, rinciannya akan dijelaskan ditempat lain. Insya Allah.

Islam menjelaskan keadilan dan konsisten dalam menjalankannya ---dalam berbagai bentuknya---- dengan pola hidup tertentu. Baik bagi individu, keluarga, atau masyarakat.

Seseorang yang hidupnya selalu terkait dengan Islam, berpikir dan konsisten dalam menjalankan ajarannya. Berjalan tegap dalam bingkai kebenaran, berdiri melawan kezhaliman dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Hal itu bila dimulai dari diri sendiri, lalu sungguh-sungguh menjaga hak-hak orang lain seperti menjaga hak-hak sendiri dan menjaga harga diri mereka dengan sepenuh hati. Maka, berikutnya hal itu akan menjadi suatu kehidupan yang seimbang dan sesuai kaidah Islam.

Tema adil dan konsisten juga merupakan tema yang membutuhkan penjelasan yang panjang dan lebar, tetapi di sini tidak memungkinkan untuk hal itu. Saya hanya menyampaikan secukupnya.

Islam memandang persamaan sebagai tuntutan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagian dari kewajiban untuk memuliakan umat manusia. Oleh karena itu, melanggarnya merupakan dosa besar. Karena hal itu menunjukkan bahwa sama saja ia berdiri terang-terangan dalam posisi melawan keragaman ras, suku, kedaerahan, watak atau pekumpulan. Tidak menyerah dalam perjuangan pemikiran yang berlawanan dengan faham yang membelokkan dalam lapangan. Islam memperhatikan betul pentingnya penghargaan akan keragaman, persiapan, dan keterampilan serta mendorong pengembangan. Mendukung penjagaan peluang dan manfaat yang sama dari berbagai kemungkinan. Menolak adanya entitas pondasi awal, politisasi pemerintahan bagi golongan tertentu. Seperti kasus pemerintahan oligarkhi. Walaupun dalam satu keadaan dari hidup. Hal itu merupakan sama saja jalan bagi pemeliharaan harapan individu untuk menggapai kesuksesan pribadi. Ini juga termasuk dalam kategori wajar adanya. (QS az-zukhruf [43]:32), tetapi hal itu untuk menyampaikan perjuangan melawan pemikiran.

Islam senantiasa mengarahkan setiap invidu serta kelompok dengan ruh persamaan dengan dorongan yang lembut. Dengan penuh perhatian, Islam memenuhi kebutuhan umat dan menuntut mereka untuk berada dalam satu garis yang sama. Mengumandangkan bahwa tidak ada manusia yang lebih utama di atas manusia lainnya. Semuanya sama. Dikuatkan pula dengan persamaan dan pemeliharaan dalam hal kesempatan. Membawa beban yang tidak ada kasih sayang di dalamnya atas redanya persiapan dalam kebingungan yang sia-sia. Atau pengikatan yang sama dimana ikatannya melahirkan keberanian tanpa ketakutan. Berdiri tegak hadapi kenaikan dan angkatan tanpa pergerakan yang merasuk ke dalam individu atau semangat yang benar darinya. Ditujukan bagi orang-orang yang yang berakhlak. Ukuran akhlak ini kembali kepada buruk dan rendahnya ruh manusia.

Islam selalu berusaha menghilangkan keburukan, kejelekan, dan kehinaan dari ruhnya. Dengan cara menghilangkan sebab-sebab dan pendorong sikap materialisme. Mendorong kekuatan individu dengan ruh iman, makrifat, dan ihsan. Karena pemeliharaan ruh dari segala hal yang hina, rendah, dan buruk seperti halnya memakai baju besi yang berfungsi sebagai pelindung dalam peperangan. Baju besi yang terbuat dari bahan keimanan yang kuat, makrifat yang tinggi, serta kedekatan kepada Allah terus menerus. Ketika ruh itu telah sampai pada tingkat mendekati istiqamah dan khusyu’, hatinya akan membuka pandangan manusia bahwa urusan kehidupannya yang utuh jauh lebih penting daripada urusan materi semata. Sebaliknya, terhalang dari penyiapan diri menuju hal tersebut akan sangat menyulitkan perlindungan diri bagi kemanusiaan dan sandaran mereka pun sangat terbatas. Buruknya ruh justru akan menjauhkan dari esensi diri yang sesungguhnya. Maka pudarlah cita-cita dan harapan manusia. Tumpah dari hatinya. Menolak kerusakan tidak bisa menghindar dari peristiwa itu dalam melayani pintu kemuliaan. Jadilah mereka diperbudak oleh keburukan sekarang hingga nanti.

Saya percaya, jika kita memahami pergerakan yang diselimuti oleh akidah Islam di dalam jiwa setiap mukmin. Maka kita akan memahami dan menemukan sebab-sebab serta pendorong naik turunnya serta jatuh bangunnya hadirnya prinsip persamaan individu atau golongan. Bahkan, kita akan menemukan ---sesuatu yang baru---dasar-dasar yang penting yang bisa mengumpulkan secara menyeluruh. Lalu kembali pada perhatian kita dan menemukan dengan kunci sesuatu yang belakang. Kami luaskan pembahasan hal-hal yang mencakup di dalam tema ini. Antara lain inti dari pendapat yang memuat riwayat-riwayat terkait perbudakan secara menyeluruh. Dalam mukaddimah salah satu tokoh awal Islam disebutkan, kenyatannya kita kuat dalam dimensi memahami Islam dengan pemahaman yang klasik. Seperti ungkapan seseorang menganggap hal itu adalah kekuatan benteng pertahanan kita. Itu adalah pegangan kita kepada sumber ajaran secara maknawi yang benar-benar kuat. “Tawakkal kepada Allah, kerja keras, lalu pasrah akan hikmah Ilahi atau hasil yang akan diberikan oleh-Nya.” Seperti yang diungkapkan oleh M. Akif, memang harus begitu. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, untuk mencapai puncak kesuksesan, harus dimulai dari kesulitan dan airmata.

Berikutnya akan hadir kemudahan dan jalan mulus tanpa hambatan yang akan disiapkan oleh Tuhan. Segolongan sahabat dan para pemikir besar, dalam sejarahnya, mereka adalah orang-orang yang mengamalkan Islam dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Berimbang dalam berpikir dan melangkah. Kapan pun dan dimana pun. Mereka benar-benar tumbuh dan terdidik dalam naungan Al-Qur’an, lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai Islami, hidup dalam pemerintahan dan pengembaraan yang sulit dalam pilihan pejuangan antara bertahan atau mati.

Kehidupan sebelum Islam datang adalah kehidupan yang keras dan keji. Liar dan kejam. Banyak terjadi pertengkaran sengit. Selalu dibumbui akhlak buruk serta tradisi yang merusak nilai moralitas. Perubahan dari masa itu hingga hadirnya cahaya Islam membawa satu pesan penting kepada para pemikir yang masih memiliki hati, ruh, dan jiwa yang bersih serta jujur akan mengakui hal itu tidak akan terjadi tanpa mukjizat yang dibawa oleh Islam. Maka sewajarnya mereka menyadari sehingga mereka menemukan diri mereka dalam bangunan serta seluk beluk kehidupan yang tinggi. Sebab aktivitas pemikiran mereka yang logis dan mendalam harusnya bisa berubah dari telapak kaki hingga ujung kepala. Tumbuh semangat baru yang menggelora. Menjauhlah akhlak buruk dan tradisi pertikaian itu. mereka memberatas tanpa ampun kepada setiap kesenangan jasmani yang tidak sesuai dengan syari’at dengan dimulai dari diri sendiri. Seperti yang dicontohkan oleh orang-orang istimewa yang terdahulu bagi runtutan keutamaan. Mereka yakin akan cita-cita kehidupan orang lain. Sehingga mereka mengutamakan kehidupan orang lain atas kehidupan sendiri serta memprioritaskan mereka. Untuk membuat orang lain bahagia, mereka selalu sadar dan hati-hati menghadapi segala kegelinciran dengan memperhatikan kelemahan yang dimiliki manusia.

Ketika mereka tergelincir ke dalam lembah maksiat, mereka segera menghadap Tuhan untuk bertaubat dengan sepenuh hati dan terus mengikuti perkembangan zaman. Sehingga hidup mereka terkonsep untuk mendaki sampai puncak. Mereka tidak pernah menyerah, bahkan melawan orang yang bersikap sewenang-wenang yang menyebar di antara mereka, juga kesepian yang muncul dari kesendirian, serta melawan berbagai penindasan, intimidasi, kejahatan, dan kefakiran yang dihadapi. Untuk melawan hal-hal di atas, setiap orang harus mengambil sikap seakan-akan seperti “pahlawan cinta”. Mereka mendekap dan berlapang dada serta menghormati pendapat orang lain. Mereka berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan untuk mencapai tingkatan insan kamil (manusia yang sempurna). Mereka memunculkan seorang ilmuwan baru dengan kesungguhan melalui pengetahuan yang diperoleh dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan semangat mereka. Mereka pun mengaplikasikan nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi generasi yang akan datang.

Merekalah asal muasal orang yang menghadap Pencipta dan menemukan kiblatnya yang hakiki. Akhirnya, dengan menyembah Tuhan, mereka terbebas dari budak nafsu, kekuatan, syahwat dan yang lainnya. Mereka juga terbebas dari kehinaan yang menimpa manusia dalam dekapan kesengsaraan. Kitalah orang-orang tersebut. kita yang sekarang menjadi teladan seperti mereka di masa mendatang. Merekalah asal muasal kita, dan generasi setelah kita adalah penerus kita.

Kita putra-putri Islam. Kita memberikan perhatian kepadanya untuk membangkitkan para ibu di rumah kita. Kita mendengarkannya di tempat tidur. Kita menyusuinya dari payudara ibu kita, kita memberinya nafas dengan udara kita. Islam selalu berada dalam hati kita yang terdalam, dan tak akan pernah terasingkan untuk selamanya.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2024 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.